Rabu, 23 April 2014

AT THE SAME TIME (part 2)



 AT THE SAME TIME part 2
author : ifdo clouds

main cast; 
kwon yuri
Kai

im yoona
choi siwon


support cast : others
genre : romance,friendship, family and hardness

@Pukul, 6.35 Am
yuri dan kai keluar dari mobil bersamaan, kai meraih tangan yuri, menggandengnya dengan mesra. Yuri hanya tersenyum kecil kemudian mereka melangkah bersama masuk ke area sekolah. Tiba tiba langkah yuri terhenti, kai ikut berhenti ia bingung, yuri menahan tangisnya melihat siwon dan yoona bercanda ria di depan kelas. Kai melihat kearah pandangan yuri, ia pun mengerti.
“yuri, kau tidak apa apa kan?!” tanya kai memastikan. Yuri diam, ia seolah tak mendengar pertanyaan kai karena masih fokus kepada dua insan yang tak jauh dari mereka.
“yuri...” kai mengguncang tubuh yuri. Yuri menoleh kearah kai seketika.
“maaf,” ujar yuri seraya menunduk, kai tersenyum lirih.
“tak apa apa. Ayo..” kai menuntun yuri berjalan menghampiri siwon dan yoona, yuri hanya diam mengikutinya.
“hallo, sunbae...” sapa kai kepada siwon dan yoona sembari terus menggenggam tangan yuri. Siwon dan yoona meoleh padanya, mereka jadi salah tingkah, terutama yoona yang merasa sangat bersalah.
“eoh, iya.” Sahut siwon, yoona memandang yuri.
“sunbae, kalian pasti sudah kenal kan? Dia yuri.”
“tentu, dia sahabatku,” jawab yoona tersenyum tak nyaman, yuri menatapnya sinis.
“tck! Begitu yah, sahabat.” Kata kai dengan nada mengejek,
“Dia yeojachinguku.” Kata kai lagi, yoona dan siwon kaget, begitu pula dengan yuri, ia tak tau apa maksud dengan mengatakan bahwa dia adalah kekasihnya.
“kai...” 
“ayo... ku rasa sudah cukup.” Seru kai beranjak pergi bersama yuri meninggalkan yoona yang merasa heran.
“sejak kapan mereka dekat?” tanya siwon
“aku tidak tau kalau yuri dekat dengan pria lain selain dirimu.” Balas yoona.
@kelas XII A
Yuri melepaskan genggaman kai, ia menatap kai dengan tajam. Kai malah tersenyum manis dengan tampang innocentnya. Yuri malah membalasnya dengan senyum sinis.
“kenapa?”
“tck! Kau ini lucu sekali. Kenapa kau mengatakan bahwa aku pacarmu,huh?! Apa maksudmu?!” tanya yuri sedikit berteriak.
“maaf, tapi aku hanya ingin memberi pelajaran pada mereka. Terutama siwon sunbae yang mencampakan dirimu begitu saja.” Jawab kai, membuat yuri semakin menatapnya dengan tajam.
“setidaknya kau harus menunjukan kau bisa lebih bahagia tanpa mereka.” Kai meyakinkan yuri, yuri menunduk seketika, bulir bening mengalir begitu saja di pipinya, membuat kai merasa bersalah.
“kau tak perlu ikut campur kai.” Seru yuri berlari menuju taman belakang sekolah.
“yuri~ah...” panggil kai mengejar yuri.

@taman belakang 
yuri duduk disebuah kursi,ia terisak disana merutuki nasibnya yg menyedihkan. Ia merasa tak berguna, ia bahkan tak bisa menjaga keluarga dan pacarnya hingga mudah saja orang lain bisa menggantikan posisinya di hati orang orang yang dicintainya. Menurutnya ini tidak adil, kenapa nasibnya harus sekeras ini?! Kenapa gadis sepertinya harus kehilangan orang orang yang disayangi saat ia beranjak dewasa? Padahal ia masih berusia 18 th. Ia belum siap hidup sendiri sementara mereka hidup bahagia tanpa memikirkan yuri yang kesepian walau kenyataanya mereka masih ada di sekitar yuri.

“ini menyedihkan, aku menyedihkan.” Keluh yuri sembari terisak.

“tidak, kau masih memiliki aku, aku akan selalu bersamamu apa pun yang terjadi. Aku akan menerimamu apa adanya, aku akan selalu menemanimu saat kau tua kelak dan kita akan hidup bahagia bersama. Tak peduli apa pun keadaannya, kau tetap bidadariku.” Kata kai, membuat yuri semakin terisak. Kai mendekat dan memeluk tubuh yuri, ia merasakan getaran tubuh yuri yang tengah menangis.

“setiap tetes air matamu adalah kesedihanku, tersenyumlah yuri, aku hanya ingin melihatmu tersenyum.” Tambah kai sembari menghapus air mata yuri dengan ibu jarinya, yuri memeluk kai dengan erat, ia kembali menangis.
“kai... terima kasih. Aku....”
“yuri, ingatlah bahwa didunia ini kau tak sendiri. aku ada selalu untukmu. Saranghae.” Kai membalas pelukan yuri,mengelus punggung yuri dengan lembut.
“terima kasih kai. Terima kasih.” Yuri melepaskan pelukannya, ia tersenyum manis pada namja tampan dihadapanya, kai membalas senyumannya.
“baiklah, sekarang kita harus kekelas. Ini sudah waktunya belajar.” Ajak kai sembari menggandeng lengan yuri dengan mesra, yuri mengangguk senang. Mereka meninggalkan tempat itu bersama sama.

@di kelas

yoona duduk di sebelah yuri, sebenarnya ia merasa takut, perasaan bersalahnya kepada yuri membuatnya enggan berbicara sedikit pun kepada sahabatnya itu, tapi... jika dibiarkan terus seperti ini, masalah diantara mereka tak kunjung selesai. Yoona menoleh perlahan kearah yuri yang tengah fokus memyimak penjelasan dari guru di depan mereka. Dengan segala keberaniannya yoona menyentuh tangan yuri yang tengah memegang sebuah pulpen. Merasa disentuh oleh seseorang, yuri menoleh kesamping. Sebuah senyuman manis menyambutnya dengan hangat.
“yuri... sejak kapan kau dekat dengan kai?” tanya yoona sok akrab,mereka memang akrab tap itu dulu sebelum yoona merebut semua milik yuri. Yuri menyingkirkan tangan yoona dengan kasar.
“jangan sok akrab!” gertak yuri berbisik, yoona menatapnya.
“kau... masih marah?” tanya yoona, yuri menatapnya sinis.
“itu pertanyaan bodoh! “ jawab yuri menahan kesalnya.
“yul, aku... aku minta maaf.” Kata yoona, yuri diam tak peduli dengan semua kata kata yoona terhadapnya.
“yul, aku sungguh sungguh minta maaf, apa yang harus aku lakukan untuk menebus semua salahku padamu? Ku mohon yul.” Mohon yoona dengan tulus, namun ada sedikit rasa terpaksa dalam dirinya saaat mengingat wajah siwon, ia tidak ingin yuri merebut siwon darinya, tidak. Bukan merebut tapi memang harus kembali pada siwon.
“ish! Berisik tau!” seru yuri beranjak ke meja belakang tanpa menghiraukan permohonan yoona tadi. Yoona hanya menunduk lesu, air matanya berlinang menahan sedih dan rasa bersalah yang tak bisa ia hilangkan.
90 menit kemudian, pelajaran pun berakhir, yuri keluar dari kelas dengan semua buku yang ada ditangannya, tadi sebelum guru keluar, guru itu meminta bantuan yuri untuk membawa semua buku tugas teman temannya ke kantor. Karena terburu buru ia tak sengaja menabrak seseorang hingga semua buku berserakan dilantai. Yuri segera berlutut untuk merapihkan buku, ia tak peduli dengan seseorang yang ditabrakna tadi.
“ku bantu.” Kata orangitu, yuri mendongak sejenak, ia diam melihat orang yang kini jongkok dihadapannya sekarang, orang itu ternyata siwon.
“tak perlu.” Kata yuri ketus sembari terus merai buku buku itu
“aku tahu kau marah, aku memang salah.” Kata siwon membantu yuri merapikan buku bukuitu.
“...”
“aku minta maaf, tapi jangan jauhi yoona,dia sahabatmu yuri.” Tambah siwon,yuri menatapnya sinis.
“sahabat?!” balas yuri sinis, ia merebut buku buku dari tangan siwon dengan kasar lalu berdiri tegak, siwon ikut berdiri.
“katakan pada kekasihmu itu, jangan ganggu aku lagi. Dan maaf aku tak mengenal kalian.terima kasih.” Ujar yuri beranjak meninggalkan siwon yang terdiam mendengar ucapannya tadi. Ia tak menyangka sifat yuri berubah 360 derajat dari yuri yang dulu, yuri yang selalu memperhatikan perasaan orang lain, yuri yang menyayangi sahabatnya yoona, yuri yang lembut dan selalu tersenyum setiap kali bertemu dengannya. Terbesit perasaan bersalah yang begitu besar kepada gadis itu,siwon lah yang mengubah semua kehidupan yuri, merubah seorang gadis yang selalu tulus menjadi gadis yang penuh kebencian dan keegoisan dalam dirinya.
“mianhae yuri~ah, semua ini salahku.” Gumam siwon penuh penyesalan dalam dirinya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Yuri berdiri disamping mobil kai, sang punya mobil belum juga muncul. Yuri beberapa kali melirik jamnya, ia sudah menunggu kai sejak pukul 1 jam yang lalu. 
“kai... kau dimana?” tanya yuri sedikit cemas. Beberapa temannya lewat dan yuri bertanya dengan mereka namun tak ada satupun yang melihat kai.
“aish... kemana dia??” cemas yuri, ia pun memutuskan untuk menyusul kai kekelasnya. Tiba di kelas kai, disana sepi tak ada seorang pun. Ia makin cemas dan mencari keruangan lain.

“aku tau kai, kau menyukaiku bukan yuri.” Kata seorang gadis menghimpit tubuh kai didinding kelas, kai menatap wajah gadis yang sekarang berada dekat dengannya. Kai menelan air ludahnya berusha mengontrol dirinya agar tidak terpancing.
“bisa kau jauhi aku? Disini sesak.” Pinta kai pada gadis itu.
“kenapa? Bukankah kau suka posisi seperti ini? Kita sangat dekat dan tidak ada yang melihat kita disini.” Jawab gadis itu sembari menyeringai buas, kai memalingkan pandangannya.
“kai... aku menyukaimu dari dulu. Kenapa malah memilih yuri? Dia tidak memiliki apa pun yang kau inginkan, dia miskin dan kau tahukan, sahabat dan kekasihnya saja menjauhinya.” Jelas gadis itu membuat kai panas mendengarnya, kai segera mendorong tubuh gadis itu agar menjauh darinya.gadis itu tercengang melihat sikap kai.
“kenapa?”
“dengar yah! Yuri adalah bagian dariku, jadi jangan berusaha merusak semuanya, dia tetap gadis pujaanku, mereka saja yang bodoh karena melukai hati yuri, tapi aku... aku kim jong in, tidak akan pernah melukai gadisku.” Balas kai dengan hati yang mantap, gadis itu tersenyum sinis, ia melihat yuri berdiri didepan pintu, dengan cepat gadis itu menarik kerah kemeja kai dan mencium bibir kai dengan paksa,yuri terdiam melihat itu. 
“heeennntttiikaaan.” Desah kai tertahan,ia menjambak rambut sang gadis dan mendorong tubuh gadis itu, kai menoleh kebelakang, ia kaget melihat yuri yang berdiri mematung dengan berlinang air mata, yuri berbalik pergi kai mengejarnya.
“haha... kena kalian!” tawa gadis itu puas.

to be continue

AT THE SAME TIME (part 1)


AT THE SAME TIME
author : ifdo clouds

main cast;
 
kwon yuri
Kai
 
im yoona
choi siwon


support cast : others
genre : romance,friendship, family and hardness


Suatu kesalahan bisa terulang kembali tanpa disadari,
Seseorang yang memberi keterbatasannya kepada orang lain yang mungkin dia lebih memilih untuk membantu kita.
Sahabat, 
Bagaimana jika kesalahan itu mereka yang melakukannya,
Dan mereka juga yang berusaha memberi semua yang kita butuhkan dengan semua keterbatasan yang mereka miliki.

“ jangan pernah bicara dan menemuiku lagi!” bentak seorang gadis dengan begitu kesal, ia berdiri dari duduknya. “ mulai saat ini dimana pun kita berada bersikaplah seolah kau tak mengenaliku!” lanjut gadis itu lagi lalu berbalik meninggalkan seorang gadis yang menangis. 
Gadis yang menangis itu menatap sahabatnya yang berlalu meninggalkannya yang masih berlinang air mata.
“ yuri~!!!” seru gadis yang menangis itu memanggil sahabatnya,kemudian ia berlari mengejar gadis yang dimaksud.
“ yuri... ku mohon dengar dulu, kau tak bisa seperti ini padaku, sungguh aku tak sejahat itu.” Seru gadis itu menyergah lengan yuri yang terpaksa berhenti karena di tarik oleh gadis tadi.
“ kau siapa? Maaf jangan menganggu, aku sedang sibuk.” Kata yuri ketus.
Gadis itu menatap yuri dengan lirih, ia tak menyangka secepat itu sikap yuri berubah acuh tah acuh padanya” aku mohon maaf. Tolong jangan seperti ini padaku, aku tahu kau pasti marah dan kesal, aku tahu watakmu, sikapmu seperti ini hanya kesal saja padaku kan?!” kata gadis itu mencoba meyakinkan diri sendiri atas sikap yuri yang kurang menyenangkan tadi.
“ maaf, aku sibuk.” Jawab yuri sedingin mungkin kemudian berbalik pergi meninggalkan gadis itu.
“aish! Dasar yoona bodoh! Kenapa kau berulah lagi,huh?!” gumam yoona pelan, mengutuk diri sendiri.
“aku tau, kau pasti akan kembali, kau hanya kesal padaku.” Hibur yoona pada dirinya sendiri. ia berjalan menuju gerbang sekolahnya. Disana ia bertemu dengan seorang namja tampan yang tersenyum manis padanya, yoona semakin dekat dengan namja itu seketika ia melayangkan sebuah tamparan keras padanya.
“yoona~ah.” Kata namja itu kaget, ia menatap yoona dengan bingungnya, sementara yoona menatap tajam padanya.
“puaaaaaaaaaaas?!!! Sekarang aku kehilangan sahabatku gara gara dirimu!” teriak yoona dengan kesal. Namja itu menatap yoona dgn perasaan bersalah, ia sekarang mengerti dan tak marah kepada yoona, karena memang dia tak salah dalam hal ini.
“yuri?! Dia marah padamu?! Maaf.” Bujuk namja itu seraya memeluk yoona dengan erat. Yoona langsung menangis dalam dekapannya, namja itu mengelus lembut rambut yoona.
“maaf, mungkin yuri tidak mengerti situasi sebenarnya, aku yakin dia akan memahami semuanya dan kau tenang saja dia pasti akan kembali padamu. Aku janji.” Namja itu meyakinkan yoona.
“sungguh?” tanya yoona
“iya, tentu.” Jawab namja itu dengan yakin. Disudut lain, yuri menyaksikan peristiwa itu, kini hatinya bertambah sakit melihat sahabat dan kekasihnya berpelukan,tidak dia bukan kekasihnya lagi namun mantan kekasihnya karena mereka sudah putus sejak kemarin dan ternyata kekasihnya itu mencintai sahabatnya, yoona.
“baguslah, ini sangat menyebalkan, kalian ternyata benar benar membuat aku hancur. Siwon! Kau sangat brengsek! Dan kau yoona, kau sangat picik! Aku benci kalian berdua!” yuri berbalik meninggalkan tempatnya karena ia tak sanggup lagi melihat 2 insan yang menghianatinya.

@kamar yuri
ia membenamkan wajahnya di sebuah bantal. Peristiwa di sekolah tadi masih berputar di otaknya seperti sebuah film yang dipercepat. Ia menarik rambutnya frustasi. Sedetik kemudian ia bangkit dan duduk didepan meja rias, menatap pantulan dirinya dicermin, sangat menyedihkan.
“perlukah aku berubah seperti yoona untuk mendapatkan pria yang lebih tampan dari siwon?! Perlukah aku menghianati sahabatku sendiri?!” gumamnya sendiri, kmudian ia menunjukan senyum sinis pada pantulannya dicermin.
“tidak! Aku bukan mereka! Aku kwon yuri.” Bantahnya dengan air mata yang berlinang, ia menunduk lemas seketika.
“aku memang yuri, aku yuri. Aku gadis lemah yang selalu kalah dalam hal apa pun dari yoona. “ia meruntuki dirinya sendiri.
“bahkan ayah dan ibuku lebih menyayangi yoona dari dirimu yuri, anak kandungnya. “ air mata yuri semakin deras.


@rumah yoona
“eomma, aku mau kerumah yuri dulu. Bolehkan?!” izin yoona pada ibunya, ibunya tersenyum kemudian mengangguk.
“hati hati sayang.” Ujar ibu yoona, yoona mencium pipi ibunya sebelum keluar dari ruang tamu. Ia berharap yuri akan mendengarnya dan mau mengerti bahwa dirinya dan siwon memang saling mencintai.
sesampainya dirumah yuri, gadis cantik ini disambut hangat oleh ibu yuri.
“yoona, duduklah, eomma akan buatkan kau jus apel.” Kata eomma yuri begitu manis pada yoona, yoona sudah menganggap ibu yuri sebagai ibunya juga, begitu pula sebaliknya dengan ibu yuri yang menganggap yoona sebagai anak kandungnya bahkan melebihi dari yuri.
“terima kasih eomma, yuri mana?” tanya yoona
“och, dia ada dikamar. Masuk saja nanti eomma antarkan jusnya kesana.” Ibu yuri berjalan masuk ke dapur, sementara yoona pergi ke kamar yuri.
“ yuri~ boleh aku masuk?!” tanya yoona tepat didepan pintu kamar yuri. Yuri terdiam sejenak.
‘tck! Tidak tau malu!’ umpat yuri kesal dalam hati. Ia memandang pintu yang masih tertutup dengan tajam, sedetik kemudian dia berjalan kearah pintu itu lalu membuka pintu, yoona tersenyum manis kemudian memeluk sahabatnya itu.
“terima kasih yuri, aku tau kau pasti bisa mengerti aku, kau hanya kesal saja padaku dan aku harus menjelaskan semuanya padamu tentang hubungan kami.” Ujar yoona kemudian melepaskan pelukannya, yuri memasang senyum semanis mungkin, namun dalam hatinya betapa ia memendam rasa sakit dan ingin sekali mengusir yoona dari hadapannya sekarang.
“masuklah,” seru yuri mempersilahkan yoona masuk ke kamarnya. Mereka duduk diatas kasur.
“yuri, aku minta maaf. Maafkan aku,” kata yoona penuh penyesalan. Yuri menggenggam tangan yoona lalu senyuman manis muncul dibibirnya.
“iya, lupakan saja. Mungkin kau lebih pantas untuknya.” Jawab yuri
“tidak, tidak seperti itu. Tapi kami saling menyukai. Jujur yuri sebelum kau pacaran dengan siwon, aku sudah menyukai siwon, namun aku mundur, setelah aku tahu bahwa siwon juga menyukaiku, jadi kami pacaran diam diam. Maaf yuri.” Jelas yoona dengan jujur. *DEG* hati yuri sakit seperti tertusuk belati kemudian  disayat  sayat oleh belati itu. Ia terdiam sejenak.
“maaf yuri, maafkan aku. Aku benar benar minta maaf, tolong jangan jauhi aku yuri. Aku tak bisa jauh dari dirimu.” Balas yoona, tulus dari hatinya.
“benarkah begitu? Kau tak bisa jauh dariku?!” tanya yuri memastikan. Yoona mengangguk mantap.
“lalu bagaimana jika kau jauh dari siwon demi aku? Bisa?!” tanya yuri, yoona diam tercekat. Ia bingung karena siwon adalah pria idaman yang selalu ada dihatinya namun yuri adalah sahabatnya, selalu ada dimana pun yoona berada,disaat duka atau pun senang.
“tidak bisakan?!” 
“aku...”
“aku sudah tau jawabanya, jadi semua kata katamu tadi untukku tidak benar, kau bohong. Kau boleh pergi sekarang dari kamarku.” Ujar yuri mengusir yoona secara halus. Yoona menatap yuri bingung.
“yuri~ah, maafkan aku, aku...”
“pergi!!!! Jangan temui aku lagi!” bentak yuri mengusir yoona, yoona kaget sketika langsung berdiri dari duduknya, ia masih menatap yuri. 
“pergi!!! Aku tak butuh penghianat sepertimu!!! Aku ...” *plaaak* sebuah tamparan keras dari eomma yuri, yoona kaget sembari menutup mulut dengan kedua tangannya, ibu yuri menatap yuri dengan tajam. Yuri terdiam.
“beraninya kau mengusir yoona! Apa hakmu huh?! Ini rumah eomma!” bentak eomma yuri, yuri menatap yoona dan ibunya bergantian.
“eomma.” Kata yoona masih kaget.
“tidak ada yang boleh mengusir yoona dari rumah ini, dia bagian dari eomma!” kata ibu yuri lagi, yuri menatapnya bingung.
“maksud eomma?!” yuri bingung
“eomma lebih menyayangi yoona dari pada dirimu yuri, kau tak bisa diandalkan.” Hardik ibu yuri, membuat tubuh yuri lemas seketika, namun ia tetap bertahan, sebuah seringai muncul dari wajah yuri.
“ jadi maksud eomma, aku yang harus pergi?” ibu yuri tak menjawab namun memaingkan wajahnya dari yuri. Yuri menatap yoona tajam sebelum ia melangkahkan kaki keluar dari kamarnya.
“yuri~ah,” seru yoona mengejar yuri.
“yuri tunggu, maafkan eomma, dia tak mengusirmu. Jangan pergi.” Sergah yoona, membuat langkah yuri terhenti,yuri menatapnya.
“eomma? Tck! Kalian menyebalkan.” Yuri menghempaskan tangan yoona dengan kasar. Yoona menangis, tak lama kemudian ibu yuri datang mendekati yoona lalu memeluk yoona penuh sayang. 

@ditepi jalan
yuri menangis tiada henti, ia terkatung katung dijalan, karena dia tak punya tempat tinggal lain, ia benar benar sedih dan kecewa dengan semua orang orang yang ia sayangi, terutama ibu,siwon dan yoona, mereka tega berkhianat kepada yuri, membuat hidup yuri menderita lahir dan batin.
“Tuhan, apa salahku? Kanapa hidupku seperti ini? Aku harus kemana?” keluh yuri kebingungan,ia duduk di pinggir jalan sembari terus menangis. 5 menit kemudian sebuah mobil berhenti didepan yuri,yuri tak menyadari itu, sang pemilik mobil keluar dari mobilnya, mendekati yuri dengan membungkuk mensejajarkan tubuh mereka.
“yuri,” panggil namja yang kini ada dihadapan yuri, mendengar namanya dipanggil, yuri mendongak dengan air mata yang masih mengalir.
“kai...” yuri kaget, kai tersenyum manis kemudian tangannya menghapus air mata yuri.
“bisa ikut denganku? Aku tak suka kau bersedih seperti ini. Aku benci melihat air matamu.” Kata kai, membuat yuri tercengang. Kai lagi lagi tersenyum lalu lengan kekarnya memeluk tubuh yuri, mengelus punggung yuri dengan lembut.
“kai, kenapa kau disini?” tanya yuri bingung. Kai tak menjawab ia hanya membantu yuri bangkit kemudian menuntnnya masuk kemobil.

@rumah kai
yuri terdiam, sementara kai tengah sibuk menyiapkan air hangat untuk yuri mandi. Beberapa menit setelah semuanya selesai ia segera menemui yuri lagi.
“kai.. kau sedang apa?” tanya yuri
“mandi dulu, setelah itu kau makan dan kita harus bicara.” Jawab kai, yuri hanya menurut saja. Entah kenapa ia tak menolah perintah kai, ia sepeti dihipnotis oleh tatapan kai, tatapan damai yang diberikan oleh junior disekolahnya itu. 

# pukul,07;45 PM#
yuri berdiri dibalkon atas, melihat pemandangan malam dari atas, ia tersenyum bahagia, ia belum pernah merasa senyaman ini dengan siapa pun. Tiba tiba sepasang lengan kekar melingkar di pinggangnya, kai meletakan dagunya diatas pundak yuri, yuri terdiam kaget namun tak menolaknya lagi.
“wah, sepertinya bidadariku ini sedang sibuk sendiri yah,” kata kai, membuat yuri tersimpu dan tak mampu untuk menoleh kesamping. Yuri bingung dengan keadaannya sekarang.
“kai, apa yang kau lakukan?!” tanya yuri muali gugup. Kai tak menggubrisnya, ia masih saja memeluk yuri.
“aku sudah lama mencintaimu, hanya kau gadis yang aku inginkan,“ jujur kai, membuat yuri tercekat.
“apa maksudmu?”
“yuri, kau masih punya aku, aku yang akan selalu ada untukmu.” Kata kai meyakinkan yuri. Yuri masih terdiam, namun ia mengerti hanya saja ini terlalu cepat, ia memilih untuk diam.
“sudah malam, kau tidurlah, besok kita pergi sekolah sama sama.” Seru kai melepaskan pelukannya, yuri menahan tangan kai agar tetap memeluk dirinya.
“kai, jangan pergi. Aku butuh kau sekarang.” Kata yuri membuat kai tersenyum senang, ia semakin erat memeluk yuri. 

to be continue